Tuesday, September 10, 2019

Lokasi Pasti KKN di Desa Penari

Lokasi Pasti KKN di Desa Penari
Sebelumnya saya telah membahas lokasi kkn desa penari secara singkat yang saya ambil dari beberapa kesimpulan yang ada dari netizen. Namun sekarang ini saya akan membahas lagi dimanakah letak asli daerah tersebut yang telah di investigasi secara lanjut.

Di Banyuwangi ada 14 kampung adat Osing, dua diantaranya adalah Kampung Adat Kemiren dan Kampung adat Dukuh yang terletak di Kecamatan Glagah. Masing-masing masyarakat adat Osing memiliki Danyang/Buyut. Mbah Buyut Cili dalah Danyang/Buyut dari Desa Kemiren, sedangkan Mbah Buyut Saridin, adalah Buyut/Danyang dari warga Dukuh Kopen Kidul, Dusun Kampung Baru, Desa Glagah, Kecamatan Glagah.

Kampung ini terletak di utara Desa Kemiren, dan di timur desa Oleahsari, dan di selatan Desa Paspan, di barat Desa kenjo..

Jadi untuk suara gamelan mistis, bisa jadi terdengar tidak hanya di Kemiren atau Dukuh saja, tetapi juga di desa-desa sekitarnya, karena suara semacam itu bisa terdengar lebih dari 5KM-an, sedangkan Dukuh, Paspan dan kemiren adalah tetangga desa secara administratif, sehingga kearifan lokalnya sama persis.

Di mana lokasinya..? baca dulu buat wawasan,

Ciri khas warga osing Kemiren adalah kasurnya berwarna hitam semua, dan dibawahnya berwarna merah, yang dijemur pada saat sebelum berlangsung upacara ider bumi.

Ajaran leluhur adalah "aja ditegor mesakaken sumber e, marahi mata", adalah larangan menebang pohon disamping sungai, karena dapat mengganggu makhluk lain yang tidak kasat mata, juga "ojo mandeg negoro, nanduro sulo", ajaran menanam pohon pengganti, sebelum memotong pohon, juga larangan, memotong pohon "sandang mayit" atau melintas di atas sungai. ini warisan kearifan lokal.

Pada hari rabu wekasan, rabu terahir bulan suro, warga menggelar upacara adat, dan sesaji di lokasi mata air, dan pada hari itu, dilarang mengambil air dari jam 6pagi-1 siang, pernah ada yang melanggar larangan dan mengambil air, dan airnya berubah menjadi darah..

Pada sumber air di wilayah using, menurut tetua adat, selepas isya' sering terdengar bunyi-bunyian gamelan, "gamelannya wong medi" menurut mereka. dan anak-anak tanpa didampingi orang dewasa dilarang main di daerah sumber pada jam 12 siang, ini berlaku sampai sekarang.

Ada banyak sumber di Kemiren yang dikeramatkan, yakni sumber penawar, sumber wadon, dan sumber lanang, ketiganya merupakan mata air "kedung rum", yang juga dikeramatkan, dan sumber mata air "ramer", di dekat persawahan. mata air yang biasa digunakan warga Mandi dan mencuci adalah mata air pakem dan mata air wuluh. Ada sekitar 38 mata air di wilayah ini. Sungai Jonmergi dan Sungai bendo sendiri mata airnya ada di gunung ijen, dan melintasi kawasan ini..

Pada acara macapatan, digelar tradisi minum banyu arum, air murni tanpa dimasak dari sumber mata air, dengan ditambahi "mbang telon", air di minum setelah jam 12 malam. Disamping itu juga ada ritual "Slametan Kebon", untuk menjaga harmonisasi alam.

Tokoh Mbah Buyut , yang merupakan tokoh sepiritual di wilayah Kecamatan Glagah, sekarang beliau sudah wafat.. Tradisi seblang pada awalnya berasal dari Kemiren, sebelum ada wangsit untuk di pindah ke Oleahsari, ngambil airnya untuk ritual diambil dari mata air tersebut.. tradisi ritual "barong ider bumi" sebetulnya adalah tradisi sarat makna, selain tradisi warisan para sesepuh, juga banyak pesan-pesan moral.

Berhenti berfikir irasional: Mitos adanya makhluk halus penunggu mata air, penunggu pohon2 besar, adalah nyata adanya, untuk menjaga kesucian alam dari gangguan tangan jahil manusia, dan agar manusia tidak serakah, sehingga mengesampingkan makhluk lain. ini pesan moral dari kemiren..

 Lokasinya :

- Kabupaten B, Banyuwangi.
- Kecamatan K, mungkin dia menyebutnya Klagah (aslinya Glagah), atau Kemiren dianggap kecamatan..
- Desa W. Waktu Ulo. Di tahun 2009 desa Kemiren bernama Watu Ulo..
- Hutan D. Dukuh. Penulis atau saksi menganggap Dusun D selaras sebagai nama hutannya.
 Dusun dukuh, Hutan Dukuh.
- Ada kopi melati, di dusun tersebut banyak petani yg menanam Kopi langka Ijen Raung dengan varian Arabika. Kopi ini beraroma Melati.
- Bima tidak menanam ubi seperti di cerita, tpi dia menanam bibit Kopi. .waktu proker disebutkan Bima dan ayu ada proker penanaman bibit kan, mungkin bibit kopi , masa ia bibit ubi.. dan bima keluar masuk dusun untuk menjual hasil bumi, biji kopi.. ( asumsi ku bisa saja salah )
- masuk ke dusun 1 jam naik motor, 1 jam jalan kaki. Perjalanan dikelilingi pohon Pinus (Jati Belanda)
- Di jalan raya (atw jalan utama) ada Pom bensin. Di olihsari memang ada pom bensin Pertamina, pertama di daerah tersebut.
- Ada batu hitam besar, batu Megalitikum terkenal di dusun tersebut. Tempat nongkrong-nongkrong genderuwo.
- Ada sumber Air, dimana salah satunya memang disakralkan
- Batu nisan atau makam yg di iket kain hitam (sangkarso) sudah tidak ada krn sudah di sapu banjir bandang.. klo pun masih adapun ya siapa yg tau ? atau yg mau memberi tau ?


Jelas yg saya tulis diatas, tapi ya silahkan nitizen lah yg ambil kesimpulan.

ARTIKEL TERBARU

Apa Komentarmu